Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Bla-bla-blahhh

Blog EntrySep 1, '11 10:42 PM
for everyone
Kamu datang di saat tak tepat. Dunia pasti hampir kiamat. Saya tahu, salah besar mencoba bersikap manis. Kamu dan otak kanak-kanakmu.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mencandu. Lama-lama pasti akan biasa. Tapi, saya butuh waktu. Barangkali seminggu, sebulan, atau bahkan lebih dari sewindu. Selama itu saya menunggu.

Ah, even love lost its magic.

It's so tragic.

Blog EntryFeb 17, '11 6:33 AM
for everyone


I've put some scattered memories all over the town
now you've got to remember me.

Blog EntryJan 12, '11 12:09 PM
for everyone
Mengadu kita kepada musim
pada satu persimpangan gerimis dan hujan turun sore-sore
dalam basah sepatu dan lambai genit payungmu
mengutuk pilu menyumpah sinis wajah mendung

jika kutangkap bulir waktu dan kugenggam dan terus saja
kugenggam, erat, maukah kau berteduh di sini merapat?
atau seperti deru angin melibas piting-memiting
sia-sia saja menahan amukmu ke gunung lembah itu

senja jatuh tergelincir dan malam melagukan nyanyian sumbang
yang samar-samar saja terdengar sampai lekuk telingaku
seperti pengamen bungkuk yang terlampau bosan memetik gitar
menjeritkan tembang cinta kenangan usang berulang-ulang

ah, bukankah dia sudah pernah bilang
nasib terlalu rumit untuk diperbincangkan
dan kebahagiaan bukanlah ikan.


Jakarta, 12 Januari 2011

Blog EntryDec 4, '10 7:57 AM
for everyone
Hayo tebak, apa persamaan pesawat terbang dengan bis trans jakarta? Kalo kurang gesit nyalip, bisa-bisa situ kepaksa bediri keabisan kursi!


Seumur-umur saya naik pesawat, baru kali ini ngalamin yang namanya insiden 'sebangku berdua.' Romantis? Yaelah.

Konyol aja menurut saya, ketika seat yang mestinya punya saya seperti tertera di boarding pass, tau-tau uda didudukin sama tante-tante dengan yoinya. Pas saya tanya ke pramugari, dia bilang, "Ntar ya, mba. Lagi diurus sama mas yang itu," sambil nunjuk sesosok manusia berseragam putih-item.

Sebutlah namanya Tegar, di mas-mas ini, yang macem orang kebakaran jenggot ngeliat tiga penumpangnya celingak-celinguk ga kebagian kursi. Di kursi yang mestinya milik kami, masing-masing sudah ada seonggok penumpang lain yang menempati--mengatupkan bibir rapat-rapat, ga sudi mengangkat pantat.

"Eh, kenapa ini, mas?" tanya saya sama mas Tegar, yang meringis kecut macem abis nelen sate curut.

"Kursinya ada yang dobel penumpang, mba," katanya ke saya.

"Lah, kok bisa?"

"Iya, soalnya kita ganti pesawat ke yang lebih kecil. Makanya ada penumpang yang ga kebagian kursi," kata doi (ga masuk akal sih menurut saya, secara nomer seatnya yang ganda, bukannya itu si tante yang asal embat kursi saya).

Tapi lah, terus? Masalah saya? Situ dong urusin. Saya uda beli tiket ini, masa mesti ikut ribet ngatur begitu-begini.

Bagi orang yang membayar Rp 1,12 juta cuma buat tiket sekali jalan rute jakarta-jambi--yang mana itu harga nyaris tiga kali lipat dari harga normalnya--insiden sebangku berdua ini sama sekali ngga lucu buat saya. Ga becus kali manajemennya.

Man, gw bayar triple aja lo masih kasih itu bangku ke orang lain. Gilak! Tak kepret sia. Kalo mau cari untung ga gitu-gitu amat kali.

Selama beberapa menit bediri mematung macem orang bego di tengah lorong pesawat itu, mau ga mau saya sempet ngebayangin sejumlah opsi:

1. Ngamuk-ngamuk ala banteng liat baju merah. Baru mau damai kalo uda dikasi kompensasi 10 kali lipat harga tiketnya *eaaa..

2. Minta pramugarinya cariin bangku serep buat saya *yak tareek, baaaanggg!

3. Nyelip cantik ke kokpit *ihick

Yang kasian sih, di mas Tegar ini. Udalah penumpangnya ngotot ga mau turun dan pindah flight berikutnya, eh..si pilotnya tau-tau keluar sambil ngedumel pula. Katanya dia uda mulur dua jam dari schedule awal. Katanya dia cape dapet shift dari jam lima pagi. Katanya kalo ga beres juga ini perkara, flightnya dicancel aja dan penumpang suruh turun semua.

Eaaalaaahhh..situ aja yang turun gimane, bos? Eike gantiin dah nyupir pesawatnya >:E

I know, I know..semua orang bingung, kesel, dan sebagainya. Penumpang lain mungkin ada yang mengutuk-ngutuk karena pesawat ga take-off juga. Saya ampe takut dilempar keluar sama pilotnya, hahaha.

"Ya, tapi bukan salah saya dong," kata saya ke si masnya. "Mau pesawatnya ganti kek, mau engga kek, kan ga ada pemberitahuan sebelumnya. Pokoknya saya mau naik flight yang ini. Kalo emang nomor seatnya dobel, kok saya yang dikorbanin? Saya kan punya hak yang sama dengan penumpang yang itu," melotot.

Si masnya panik lagi, saya kasian lagi. Dan si mas-mas itu ya, good looking pulak, ahaha *colek dikit ah :p

Akhirnya, setelah nunggu entahlah itu 20 menit kali ada di depan pintu pesawat, jreng-jreeenngg.. Tiba-tiba dateng seorang petugas, tergopoh-gopoh membawa segepok uang. Awalnya saya pikir si mase mau kasih saya uang tutup mulut *ahaha, ge-er deh. Ga taunya, daritadi si pramugari-pramugari pada nyariin ibu-ibu yang bawa anak bocah. Trus, mereka ngebujuk si ibu-ibu itu buat mangku anaknya dan ngasih seatnya ke saya. Sebagai kompensasi, uang tiket anaknya dibalikin.

Jadi, begitulah. Setelah berpuluh menit menunggu sementara pesawat masih di landasan pacu, akhirnya si saya dan si dua orang bapak berhasil mendapatkan bangku. Bah, macem naek bis kota aja.

Blog EntryNov 28, '10 8:02 AM
for everyone
Jadi beginilah, seperti gerimis, dia singgah tiba-tiba saja. Tapi, toh, pada satu titik ada yang harus pergi lagi. Menguap ditelan hari yang biasa sesaknya. Mungkin memang tak ada yang istimewa. Tapi selama tiga setengah jam yang singkat itu, ada yang berpura-pura tabah. Membiarkan tubuh dihempas rinai yang menggigit. Membiasakan diri disergap dingin yang bikin kulit berjengit. Sekelumit demi sekelumit.

Jadi beginilah...


Blog EntryNov 13, '10 2:04 AM
for everyone
                                                  theautumnsociety.com


menunggu hujan reda
rasa pundakmu samar masih teraba
seperti siul angin atau titik-titik air melenting
ingatan melompat menghambur menghantam
niat yang maju mundur

menunggu hujan reda
kalau belum mengamuk badai buat apa kita gelisah?
kalau belum gelegar petir menyambar kilat
menghunjam mencucuk mencacah
buat apa kita berdarah?

bukankah hari terlampau singkat bagiku
bagimu untuk jadi seorang pengecut
bukankah Tuhan bersama orang-orang yang berani
bukankah sudah kusandarkan impian di pundakmu
yang terkulai ditegar-tegarkan di bangku taman itu

dulu.


Jakarta, November 2010

Blog EntryOct 26, '10 3:55 AM
for everyone

Blog EntryOct 15, '10 10:08 AM
for everyone
Pertemuan yang tidak disengaja dengan wajah-wajah familiar selalu menyenangkan. Seperti malam ini, ketika mata saya bersitubruk dengan satu sosok yang akrab di ingatan.

Betapa tidak, nyaris setiap hari saya bertemu dengannya di kantor. Panggil saja dia X, yang sudah saya kenal jauh sebelum saya berkantor di tempat kerja sekarang. Dulu, saya magang di media tempatnya bekerja di Bandung. Ketika itu saya masih kuliah, masih dipusingkan dengan tugas-tugas dari dosen, yang kalau dipikir-pikir jauh lebih menggairahkan dibandingkan kewajiban kerja sekarang.

Lucunya, baik dulu mau pun sekarang saya tidak benar-benar akrab dengan si X ini. Ya, kami masih saling senyum dan melempar sapa tiap kali berpapasan di kantor. Tapi, tak pernah sekali pun saya terlibat percakapan lebih dari lima menit dengannya.

Karena itulah pertemuan tak disengaja saya dengannya tadi terasa begitu lucu--lucu yang giris. Seperti komedi satir tentang ketidakpedulian kita terhadap kehidupan atau manusia atau, ah, entah.

Di ruang tunggu 4x4 meter itu, saya yang sedang cemas karena nama masih nongkrong di waiting list, justru bisa berbincang banyak dengannya. Topiknya pun lebih personal, seputar jakarta-bukan-tempat-tinggal-yang-nyaman, secuil cerita tentang anak-istrinya, sampai nostalgia singkat masa-masa keemasan di kota kembang *tsaaahh...metik kecapi

Lucunya lagi, dia bertanya soal pekerjaan, semacam mengapa-kamu-nggak-pernah-liputan-keluar sampai menuturkan perjalanan kariernya hingga terdampar ke kota metropolitan ini. Maksud saya, do'oh, kita kan sekantor gitu loh... Kubikelnya cuma berjarak lima meter dari meja saya. Seharusnya, percakapan seperti itu sudah terekam sejak lama--seharusnya. Tapi justru di sana, di ruang publik itu, baru kami akhirnya bercakap panjang soal kehidupan.

Ini lantas membuat saya berpikir. Sering kali, saya terlalu mengotak-kotakkan segala hal. Kalau saya ke kantor untuk bekerja, pikir saya, tak perlulah saya sok tanya-tanya soal kehidupan pribadi rekan kerja atau atasan. Cukuplah kita berbasa-basi secukupnya dan berlagak profesional.

Tapi, hal itu ternyata membuat saya muak, menggumpal semacam racun yang harus segera dimuntahkan. Saya mau menjadi orang yang lebih peduli, yang memandang manusia sebagai manusia. Bukan sekadar libasan wajah dan nama-nama.

Blog EntrySep 29, '10 1:46 PM
for everyone














kuserukan namamu saat kudengar kertak suara itu
yang menyelusup lirih menembus kabut pagi buta

di luar,
burung gereja menarikan ritual-ritual ritmis gembira
mencericip riang menyambut subuh yang luntur
di tepi jendela

jauh ke timur,
fajar baru redup menyala
menjatuhkan bayang-bayang serupa lukisan kabur
di tanah basah

dan hatiku yang gemas kau remas seperti kertas
berderak serupa dahan pohon di belakang rumah

"kraakk..."

patah jadi dua.


Jakarta, September 2010

Blog EntrySep 22, '10 4:43 AM
for everyone
Jadi, setelah beberapa jeda yang tenang, saya kian sadar bahwa menghapus kenangan ternyata memang mustahil dilakukan. Biar saja, biar. Biar saya simpan jauh-jauh di dasar lemari, seperti sehelai baju bagus yang sudah terlalu kekecilan--dibuang sayang.

Setidaknya, saya masih bisa mengingat: suatu kali dulu, saya pernah senang mengenakannya.

Blog EntrySep 16, '10 10:39 AM
for everyone
Waktu pertama kali berpisah sekitar dua tahun lalu, dia menangis histeris sambil menjulurkan kedua tangan mungilnya ke arah saya. Saat itu, ibunya menggendongnya masuk ke dalam sebuah mobil yang akan membawanya pergi jauh. Saya cuma diam tercekat, tertawa gugup untuk menetralisasi hati yang berat disesaki emosi. Kalau tidak ditahan-tahan, air mata itu pasti tumpah juga. Tapi saya hanya tidak suka terlihat cengeng, apa pun kondisinya.

Waktu itu usianya baru satu tahun. Dia dilahirkan di sebuah rumah sakit di Bandung, tepatnya pada 4 September 2007. Ketika dia menghirup nafas pertamanya di dunia, saya masih beratus-ratus mil jauhnya dari sana. Sewaktu bapaknya, abang ipar saya, mengumumkan kelahiran putra pertamanya lewat pesan singkat di ponsel, saya sedang tidak menjadi diri saya sendiri. Semuanya gara-gara ramuan jamur ajaib yang iseng saya cicipi bersama dua teman di Bali. Sempat saya bolak-balik membaca ulang pesan itu beberapa kali, mencoba mengerti apa isinya. Tapi, perhatian saya selalu teralihkan setelah membaca beberapa kata, tanpa paham setitik pun maknanya. Cahaya warna-warni yang berpendar dari ponsel itu rupanya lebih menarik perhatian saya waktu itu. Akhirnya, setelah beberapa kali mencoba, saya menyerah juga.

Keesokan paginya, setelah kesadaran mulai merasuki otak saya, barulah saya tahu bahwa keluarga besar kami telah kedatangan anggota baru, seorang bayi lelaki mungil yang menjadi keponakan pertama saya. Muhammad Farell Andhika namanya.

Farell, begitu panggilannya, segera saja menjadi mahluk kecil favorit saya. Hobinya, menggigit-gigiti buntut boneka anjing kurus kepunyaan saya, yang akhirnya menjadi miliknya. Waktu saya akhirnya pindah ke rumah kakak pas zaman-zaman ngerjain skripsi, si Farell ini setia membangunkan saya setiap pagi dengan air liurnya yang menetes-netes membasahi pipi saya. Setelah itu, kakak biasa menyetelkannya dvd lagu anak-anak sambil menyiapkan air mandi. Lalu, saya akan ikut menonton bersamanya dan bernyanyi-nyanyi kecil sampai bosan.

Kalau saya sibuk di depan komputer, keponakan saya itu pasti ikut-ikutan masuk ke kamar dan sibuk memencet-mencet keyboard. Makanya skripsi saya lama beresnya, orang digangguin mulu, haha. Terus kalau saya minum kopi, dia pasti merebut cangkir saya dan tidak mau melepaskannya sebelum dikasih minum beberapa teguk. Mungkin nanti kalau dia sudah lebih besar, kami bisa minum kopi bareng sambil cerita-cerita, yuk, mariii...

Selain itu, dia juga rupanya doyan banget makan duren. Jadi nanti saya harus lebih hati-hati. Kalau dia sudah besar, bisa-bisa kami rebutan pas pesta duren.

Waktu dia akhirnya pindah ke Aceh, rasanya sulit membayangkan tidak bisa lagi mendekapnya erat-erat sambil cekikikan berguling-guling di atas kasur depan TV setiap pagi begitu bangun tidur, atau pura-pura bermain tinju yang selalu membuatnya terkekeh geli ketagihan. Saya juga tidak bisa lagi menggendongnya menandak-nandak di atas pundak atau membelikannya wafer cokelat dan chiki di warung dekat rumah.

Baru tiga bulan berpisah, rasanya kangen bukan main. Sampai-sampai saya terpikir untuk ikut pindah bersama kakak ke Aceh, hehehe. Untungnya, saya masih bisa bertemu mereka beberapa kali dalam dua tahun terakhir ini. Lebaran kemarin ini juga kakak pulang ke rumah, jadi saya bisa ketemu Farell. Umurnya sudah tiga tahun sekarang, tetap lucu dan tambah iseng. Kalau saya kepanasan dan menyalakan kipas angin, dia sengaja bolak-balik mematikan. Kalau saya bilang, ''Iiihhh...kok dimatiin. Panas tauuuuu...'' dia bakal bilang, ''Iiiyy...nanti masuk angin, tauuuu....''

Terus dia punya kebiasaan baru, mengulang satu kata berkali-kali pas lagi ngomong. ''Palel mau bili-bili-bili melcon....(Farell mau beli-beli-beli mercon)'' Semakin dia lupa apa yang mau diomongin, semakin panjang pengulangannya.

Nah, sebenarnya masih banyak yang mau saya ceritain. Tapi saya lupa. Dan saya harus pindahan kamar. Jadi yasudah. Sekian dulu ah :D

Blog EntrySep 16, '10 9:26 AM
for everyone
Jadi ceritanya saya membuat resolusi baru untuk mulai rajin menelepon keluarga saya, entah itu ayah, ibu, paman, bibi, kakak, adik, sampai abang ipar saya. Tapi, ternyata sulit mencari-cari bahan pembicaraan. Apalagi, selama ini saya lebih mengandalkan SMS kalau ada apa-apa, mulai dari sekadar menanyakan kabar, meng-update informasi perburuan karier baru, sampai memberitahu kalau saya hendak pulang kampung.

Rasanya, kok, susah kali ya ngobrol di telepon. Banyak jeda yang membuat canggung. Dan saya sibuk memutar otak memikirkan kalimat apa lagi yang hendak dilontarkan. Beda cerita kalau memang ada perlu, obrolan tentu bisa mengalir lebih jelas ada tujuan. Saya bukan tipe orang yang bisa curhat soal kehidupan personal kepada keluarga. Yang tahu banyak rahasia saya, ya, sahabat-sahabat saya. Rasanya risih saja membayangkan curhat soal gebetan ke ibu. Paling banter saya cerita ke adik yang usianya persis di bawah saya. Itu juga karena dia rajin mengorek-ngorek informasi karena dimintai tolong oleh ibu.

Saya cuma tidak suka berbasa-basi. Bukannya saya tidak peduli dengan kabar keluarga saya, bukan. Saya tentu saja sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka. Tapi, kalau setiap kali menelepon kabar yang disampaikan cuma itu-itu saja, kan jadi bosan? Saya bahkan tidak punya cerita baru yang bisa saya kisahkan pada mereka.

Tapi, sudahlah. Dicoba saja. Dalam seminggu terakhir ini sudah dua kali saya menelepon adik, menanyakan hal-hal tak penting cuma biar saya punya alasan untuk meneleponnya. Dia pasti bingung, saya yakin. Tapi, biarlah. Lama-lama pasti juga terbiasa. Mudah-mudahan.

Blog EntryAug 27, '10 11:35 AM
for everyone
tak akankah kita lelah melagakkan lakon yang itu-itu juga
sekepal cumbu rayu goda menggoda.


Jakarta, Agustus 2010

Blog EntryAug 6, '10 11:13 AM
for everyone

Ada yang tak akan pernah bisa sampai kukatakan pada Nenek, yang menghembuskan nafas terakhir pukul lima subuh tadi. Ada yang selalu datang terlampau cepat, seperti kabar kematian saat penyesalan masih terkalang di pangkal tenggorokan.

Barangkali, tadi malaikat datang menjemputnya seiring adzan Subuh, saat aku masih terlelap dalam tidur yang tanpa mimpi.

Tapi, Nek, saat ini aku sedang tak ingin menulis cerita sedih. Karena tak ada satu pun dongeng sedih yang pernah kau kisahkan, dulu, ketika aku masih seorang kanak-kanak yang nakal dan penakut. Selalu cerita-cerita lucu dan bodoh, yang mengalir keluar dari bibir bijakmu setiap malam, sebagai dongeng pengantar tidurku.

Kadang, kau tanyakan padaku, kisah apa yang malam ini ingin aku dengarkan. Dan aku akan berebut berdulu-dulu dengan kakak, yang ingin kau dongengkan juga kisah pilihannya. Kadang, aku mendesakmu memburu-buru, jika kisah yang kau dongengkan terlampau panjang sementara aku ingin segera melompat ke akhir cerita itu.

Lalu, akan kau suruh aku pejamkan mata, setelah menuntunku dan kakak berdoa sebelumnya. Masih kuingat urutannya: surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing satu kali, diikuti doa sebelum tidur sebanyak tiga kali, dan bacaan basmalah sebanyak 27 kali, ditutup dengan membaca dua kalimat syahadat.

Kadang, kubuka lagi mata yang sempat kupicingkan karena belum mengantuk. Lalu, kuusik tidurmu atau kupencet keluar bintik hitam aneh di pipimu, meski kau bilang jangan. Penasaran sekali aku melihat bintik hitam mungil itu, dulu, sebelum tahu benda itu ternyata cuma komedo yang sekarang banyak bertabur di hidungku.

Tapi, sebagian besar malam biasa kuhabiskan dengan terjaga bersimbah keringat dingin, terpekik kalut karena mimpi tentang hantu atau jin. Dan kau selalu ada di sana, menenangkanku sebelum kembali mengajak melantunkan doa-doa. Di malam-malam lain, aku terbangun karena khawatir, diam-diam menoleh ke samping untuk sekadar memastikan dadamu masih bergerak naik-turun, lalu memohon, semoga pagi cepat datang.

Saat sarapan, kau temani aku duduk di meja makan, menyemangatiku yang selalu kepayahan menghabiskan nasi di pinggan. Lauknya selalu sama, telur dan keripik kentang. Lantas, akan kau biarkan aku memindahkan kuning telur yang kubenci itu ke atas pingganmu, sebelum telanjur kulemparkan sembunyi-sembunyi ke kolam biar dimakan ikan.

Ah, Nek, mana cukup satu halaman ini saja yang kugunakan untuk menulis tentangmu. Aku bahkan belum sempat mengenang bagaimana kau selalu membiarkanku mengambil seratus dua ratus uang receh dari tas tuamu, yang selalu kau bawa pergi mengaji ke masjid. Aku juga belum menulis tentang permen mint yang selalu kau minta kubelikan di warung, atau permen rasa cendol yang absurd (serius, Nek, siapa sih yang mau isap permen itu? :p).

Beberapa kenangan bahkan mengabur di kepalaku, seperti memorimu yang lambat laun mengabut terkikis waktu. Lalu, kau lupa tentangku.

Salahku juga, yang terlalu lama meninggalkanmu untuk berkuliah di pulau seberang. Tapi, aku selalu yakin kau sesungguhnya masih mengingatku, meski kita hanya sempat bertemu beberapa minggu setiap aku pulang ke rumah untuk berlibur atau lebaran.

Lantas, setiap kali aku harus kembali meninggalkanmu, akan kau ikuti terus aku ke setiap penjuru. Beberapa kali bahkan kau selipkan segulung uang kertas ke genggaman tanganku, sembunyi-sembunyi, biar tidak ketahuan ibu. ''Untuk sekolah,'' katamu, sebelum mulai menasehatiku. Biasanya, kusimpan saja uang itu dan tak kupakai. Tapi, yah, namanya juga anak kos, Nek. Habis juga kubelanjakan bekal pemberianmu.

Seringnya, aku menghindar ketika kau buntuti, karena aku tahu kau akan mulai mengucap selamat jalan. Padahal, aku tak pandai dengan perpisahan. Kupikir, jika kita berpura-pura bahwa aku tidak pergi jauh, bahwa dalam sekejap aku bisa kembali ada di sampingmu, maka kita tidak perlu bersedih. Pikirku, karena belum mengucap salam perpisahan, maka aku akan diberi kesempatan bertemu lagi denganmu.

Tapi, sepertinya aku keliru.

Jadi, tidurlah, Nek, tidur. Kali ini, biar aku yang meninabobokanmu. Bukan dengan dongeng, pun bukan lagu-lagu. Hanya berapa larik doa yang putus-putus, semoga cukup.

 

Jakarta, Agustus 2010


Blog EntryAug 4, '10 9:36 AM
for everyone

Hatinya bocor. Mungkin itu sebabnya dia sering mengeluh hampa. Bagaimana bisa merasa penuh, jika baru diisi, semuanya sudah jatuh berceceran lagi.

Jadi, seperti itulah siklus yang dia jalani. Diisi-tercecer-dikumpulkan-diisi ulang lagi, hanya untuk menemukan hatinya kembali kosong di keesokan hari.

Lantas, dia tergugu, mencoba mengingat sejak kapan segalanya terasa begitu rumit. Mungkin semua bermula ketika dia direnggut paksa dari balik ketiak bapaknya, tempat yang menurutnya menjadi persembunyian ternyaman sedunia. Setelah itu, tak ada lagi kata aman. Setiap hal dengan mudah membuatnya gelisah.

Tapi, untuk pulang pun dia masih enggan. Ada yang memberati langkahnya, membuatnya terpincang-pincang melompati detik demi detik yang menganga lebar--siap melahap apa pun yang tidak siap. Dan bayangan bapak ibunya terpatri jelas di sudut hari, melambai-lambaikan tangan lembut mereka, mencoba menariknya kembali.

Ah, salahkan saja hati yang bocor itu. Yang membuat segalanya terserak dan dirinya panik hilang kendali. Dan satu pertanyaan yang tak kunjung hilang, sampai kapan manusia harus mencari?


Blog EntryJul 8, '10 10:22 AM
for everyone
rumah-rumah beterbangan
ai, ai

di manakah kita, kawan?
rindu masih sama anyir masih sama pengap masih sama pening

rumah-rumah beterbangan di atas kepala
berputar menukik hilir-mudik berputar berpusing


-kangen pulang-
Jakarta, Juli 2010

Blog EntryJul 8, '10 8:54 AM
for everyone
Tiba-tiba saja saya merasa tidak terlalu adil, tidak pernah belajar mencintai kota ini. Setidaknya, saya bisa mencoba, menemukan hal-hal kecil yang sederhana. Sebab, selalu ada sesuatu--seremeh apa pun itu--yang bisa membuat kita jatuh cinta.

Tapi, sekadar membuka hati pun saya malas. Saya takut, sekali mempersilakannya masuk, saya akan jadi terlampau betah. Dan lupa, tentang kota tempat saya dan kamu pernah bertemu.

Saya tahu, dia juga tidak sempurna. Macetnya, terik mentari yang menyengat perih, belum lagi gerombolan turis kota tetangga yang tumplek-blek bikin pengap tiap akhir pekan. Dan saya tetap tak pernah tahan mendengarkan celotehan penduduk asli yang ramai bercakap dengan bahasa ibunya--terlalu melelahkan. Sungguh tak sopan saya jadi pendatang.

Tapi, di sanalah sebagian besar kenangan masa dewasa saya terbentuk, beranak-pinak. Di sanalah semuanya berakar. Meninggalkannya membuat saya seperti dicerabut. Kalut, kalang-kabut.

Namun, apalah juga yang bisa diharapkan dari sebuah kota yang hanya dijadikan persinggahan? Bandaraya yang silih berganti dicumbui dan ditinggalkan. Apalah lagi artinya kenangan, jika mengingatnya pun saya tidak berani.

Saya takut keliru, mengenang hanya dengan cara yang menentramkan hati. Mungkin kamu tidak benar-benar ada di situ. Mungkin saya tidak sungguh-sungguh mengenalmu. Dan mungkin--mungkin saja--memang tidak pernah ada cerita tentang kita.

Blog EntryJun 21, '10 12:36 AM
for everyone











ada yang selalu menahannya di sudut hari
ada yang memaksanya membalikkan badan
dan berlari

ada yang tak pernah usai
jeda yang terlampau panjang, tak tahu kapan selesai

ada

ada?

Blog EntryJun 17, '10 10:12 AM
for everyone
Bukan, ini bukan kisah saya, tapi teman yang patah hati. Soal hati yang patah sih jangan ditanya, pastilah banyak orang yang ngalamin.

Saya juga beberapa kali pernah kok patah hati. Sakit sih, tapi abis itu ya udah, sembuh juga. Atau mungkin engga, well, entahlah. Yang jelas sih sekarang saya sudah baikan, sudah punya gebetan baru lagi (wae!) hehehe...

Saya percaya, seperti yang selalu ditekankan oleh salah satu sahabat saya, hati itu sama kaya otot. Semakin dilatih semakin kuat. Jadi ga usah terlalu khawatirlah, we're gonna be just fine, eventually.

Dan soal teman saya itu, barangkali yang meracuninya adalah kebencian itu sendiri. Dia benci amat sangat nian sekali sama si mantan ini, yang memutuskannya karena alasan ga jelas. Mau jadi pastur katanya (yeah, rite!). Tapi kemarin, tiba-tiba saja si mantan pacaran lagi (nah, lo...konsisten dikit dong, bung!) . Dan teman saya langsung panas.

Katanya dia ga terima. Katanya mantannya munafik. Katanya-katanya-katanya... banyak sekali katanya, tapi apa gunanya? Buat apa sih dipikirin? Helloo? Seriously, what would you get from that? You can actually die from a broken heart, begitu yang saya baca.

"Too much pain and grief, as well as a very powerful emotional shock can lead to heart attack-like symptoms that may often result in death.
" (news.softpedia.com)

Taahh.. males banget, kan?

Saya selalu bilang, "Udah, lupain aja. Forgive and forget." Tapi emang lebih gampang ngomong kali ya daripada ngejalanin. Tadinya mau saya tambahin satu lagi nasihat klise, "Masih banyak ikan di laut..." Tapi ga jadi. Soalnya Organisasi Pertanian dan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah menyebutkan akan terjadi krisis pangan ikan pada 2040 nanti (nah, terusss?)

Yah, pokonya intinya begitulah. Gausa terlalu dipikirin, yuk ah mariii...

Pages:123

yulia

come, come, to the lalaland...